NEWS UPDATE :  
CALL CENTER / NOMOR PENGADUAN IJAZAH DI MENU KONTAK

Berita

ACARA MAULID NABI MUHAMMAD SAW 1448 H

Maulid Nabi 2026: Sejarah, Dalil, dan Hukum Memperingatinya dalam Islam

Maulid Nabi 2026: Sejarah,...

Peringatan Maulid Nabi SAW memiliki sejarah panjang, salah satunya menurut ulama Jalaluddin As-Suyuthi, sosok Malik Mudhaffar Abu Said Kukburi sebagai salah satu tokoh yang menggelar peringatan Maulid Nabi secara besar-besaran pertama kalinya.

Maulid nabi menjadi salah satu tradisi yang istimewa di kalangan umat Islam Indonesia. Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini biasanya diisi dengan pembacaan selawat, sirah Nabawiyah, pengajian, hingga kegiatan berbagi makanan dan sedekah. Di Indonesia, Maulid Nabi juga menjadi momen penting karena ditetapkan sebagai hari libur nasional. Lantas, bagaimana sejarah Maulid Nabi dan bagaimana hukumnya dalam pandangan syariat? Pada 2026, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati pada 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, yang bertepatan dengan Selasa, 25 Agustus 2026. Berikut ulasan mengenai sejarah, dalil, serta pandangan ulama tentang peringatan Maulid Nabi .

Sejarah Maulid Nabi

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut penjelasan tentang perayaan maulid, sejarah dan dalil-dalilnya: Ulama Jalaluddin As-Suyuthi (1445-1505 atau 849-911 Hijriyah) menerangkan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan Maulid Nabi adalah Malik Mudhaffar Abu Sa'id Kukburi (1153-1232 atau 549-630 Hijriyah).

Baca juga: 23 Akhlak Nabi Muhammad SAW yang Patut Diteladani dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagian pendapat mengatakan Shalahuddin Al-Ayyubi (1138-1193) pertama kali melakukan peringatan Maulid Nabi secara resmi. Sementara versi lain menyatakan bahwa maulid Nabi ini dimulai pada masa dinasti Daulah Fathimiyah di Mesir pada akhir abad keempat Hijriyah atau abad 12 Masehi. Raja Irbil (wilayah Irak sekarang) Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, mengadakan Maulid Nabi pada awal abad ke 7 Hijriyah.

Ibnu Katsir dalam kitab Tarikh berkata: "Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal. Dia merayakannya secara besar-besaran. Dia adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil". Sejak zaman Sultan Al-Muzhaffar hingga sekarang menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Banyak ulama terkemuka menyatakan demikian.

Di antaranya Al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H); Al-Hafizh Al-Iraqi (wafat 806 H); Al-Hafizh As-Suyuthi (wafat 911 H); Al-Hafizh Al-Sakhawi (wafat 902 H); Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitami (wafat 974 H); Imam An-Nawawi (wafat 676 H); Imam Al-Izz ibn Abd Al-Salam (wafat 660 H); mantan mufti Mesir yaitu Syeikh Muhammad Bakhit Al-Muthi'i (wafat 1354 H); mantan Mufti Beirut Lubnan yaitu Syeikh Mushthafa Naja (wafat 1351 H), dan masih banyak ulama besar lainnya. Bahkan Imam As-Suyuthi menulis Kitab khusus tentang Maulid berjudul "Husn Al-Maqsid Fi Amal Al-Maulid".

Karena itu perayaan Maulid Nabi yang biasa dirayakan di bulan Rabiul Awal menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dari masa ke masa. Dalil Perayaan Maulid Nabi Yang dimaksud peringatan Maulid Nabi adalah kegiatan berkumpul mendengarkan sirah Nabi dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri Beliau. Juga memberi makan orang-orang yang hadir, memuliakan orang-orang fakir dan menggembirakan hati orang-orang yang mencintai Baginda Nabi.

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, seorang Ahli Hadis terkenal yang merupakan keturunan Nabi dari jalur Hasan. Beliau lahir di Mekkah pada tahun 1365 H/1944 M dari keluarga Al-Maliki Al-Hasani menjelaskan secara rinci dalil tentang Maulid Nabi.

Kata Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, hari kelahiran (Maulid) Nabi lebih besar dan lebih agung daripada dua hari raya. Sebab beliaulah (Rasulullah SAW) yang membawa 'Ied (hari raya) dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena berkat kelahiran Nabi juga kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada Rasulullah, tentu tidak ada Nuzulul Quran, Isra Mikraj, Hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Futuh Mekah, yang semua itu terhubung langsung dengan Nabi dan kelahirannya.

Tidak layak seorang muslim yang berakal bertanya, 'Mengapa kamu memperingatinya?' Seolah-olah dia bertanya, 'Mengapa kamu bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW?'.

5 Cara Mencintai Nabi Muhammad SAW agar Kelak Dikumpulkan Bersama Beliau

5 Cara Mencintai Nabi... 

Ada sejumlah cara untuk menumbuhkan dan membuktikan kecintaan kepada Rasulullah SAW, salah satunya mencintai Rasulullah SAW melebihi cinta pada diri sendiri.

Salah satu hadis yang populer mengisahkan percakapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan seorang Arab Badui tentang hari Kiamat . Ketika orang Badui itu bertanya mengenai kapan Kiamat terjadi, Rasulullah SAW justru balik bertanya, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari Kiamat?" Orang Badui itu menjawab bahwa dirinya tidak mempersiapkan banyak salat dan puasa. Namun, ia mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah SAW tidak mencelanya. Beliau justru menyampaikan kabar yang menggembirakan: "Al-mar'u ma'a man ahabba," yang berarti, seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya. Hadis ini menunjukkan betapa besar kedudukan cinta kepada Rasulullah SAW . Cinta kepada beliau bukan sekadar ungkapan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui sikap, keteladanan, dan kesungguhan dalam mengikuti ajarannya.

Para sahabat telah memberikan teladan luar biasa dalam mencintai Rasulullah SAW. Mereka tidak hanya memperbanyak selawat, tetapi juga rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa demi membela Rasulullah SAW dan agama yang beliau bawa. Baca juga: Kisah Haru Anak 8 Tahun yang Begitu Merindukan Nabi Muhammad SAW hingga Wafat di Madinah Lantas, bagaimana cara umat Islam di zaman sekarang mencintai Nabi Muhammad SAW? Ustaz Muchlis Al-Mughni, dai lulusan Al-Azhar Mesir, dalam tausiyah bertajuk "Edisi Cinta Rasul", menjelaskan sejumlah cara untuk menumbuhkan dan membuktikan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

1. Mencintai Rasulullah SAW Melebihi Diri Sendiri Kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya ditempatkan di atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga, maupun manusia lainnya.

Hal ini pernah dialami Sayyidina Umar bin Khattab RA. Ia pernah mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa dirinya mencintai beliau melebihi segala sesuatu, kecuali dirinya sendiri. Rasulullah SAW kemudian bersabda bahwa kecintaan Umar belum sempurna sampai ia mencintai Rasulullah SAW melebihi dirinya sendiri. Umar kemudian merenungkan sabda tersebut. Ia menyadari bahwa ketika berada di akhirat dan membutuhkan pertolongan, tidak ada jaminan keluarga atau orang-orang yang dicintainya di dunia dapat memberikan pertolongan. Dari kesadaran itu, kecintaan Umar kepada Rasulullah SAW semakin sempurna. Ia memahami bahwa mencintai Rasulullah SAW harus diwujudkan dengan menempatkan beliau sebagai sosok yang sangat dicintai dan ditaati.

2. Mempelajari Sirah dan Kehidupan Rasulullah SAW Ada ungkapan, "tak kenal maka tak sayang". Prinsip ini juga berlaku dalam membangun kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin seseorang dapat mencintai Rasulullah SAW jika tidak mengenal kehidupan beliau? Karena itu, mempelajari Sirah Nabawiyah menjadi salah satu jalan untuk mengenal Rasulullah SAW lebih dekat. Dari sirah, umat Islam dapat mengetahui nasab beliau, keluarga, perjalanan dakwah, akhlak, kebiasaan, keistimewaan, perjuangan, hingga pesan-pesan yang beliau tinggalkan bagi umat. Semakin dalam seseorang mengenal kepribadian Rasulullah SAW, semestinya semakin tumbuh pula rasa cinta dan keinginannya untuk meneladani beliau.

3. Memperbanyak Selawat Orang yang mencintai seseorang biasanya akan sering mengingat orang yang dicintainya. Demikian pula kecintaan kepada Rasulullah SAW. Salah satu bentuk nyata kecintaan tersebut adalah memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selawat menjadi amalan yang dapat dilakukan kapan saja. Dengan memperbanyak selawat, seorang Muslim senantiasa mengingat Rasulullah SAW sekaligus memohon kepada Allah Ta'ala agar memberikan kemuliaan dan keberkahan kepada Nabi Muhammad SAW.

4. Membela Kehormatan dan Menghidupkan Sunah Rasulullah SAW Kecintaan kepada Rasulullah SAW juga harus diwujudkan dengan menjaga kehormatan beliau dan membela ajaran yang dibawanya. Ketika nama baik Rasulullah SAW dinodai, seorang Muslim dapat menyikapinya dengan cara yang bijak dan sesuai tuntunan Islam. Di era digital, pembelaan terhadap Rasulullah SAW juga dapat dilakukan melalui berbagai media dengan menyampaikan informasi yang benar dan santun.

Namun, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada pembelaan secara lisan. Hal yang lebih penting adalah menghidupkan sunah beliau dalam kehidupan sehari-hari. Mengikuti akhlak Rasulullah SAW, menjaga ibadah, berlaku jujur, menyayangi sesama, serta menjauhi perbuatan yang dilarang agama merupakan bagian dari bukti kecintaan kepada beliau.

5. Menumbuhkan Kerinduan untuk Bertemu Rasulullah SAW Cara lain untuk membuktikan kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah menumbuhkan kerinduan untuk bertemu beliau. Kerinduan tersebut dapat menjadi motivasi bagi seorang Muslim untuk memperbanyak amal saleh, mengikuti sunah, dan memohon kepada Allah Ta'ala agar kelak dikumpulkan bersama Rasulullah SAW di akhirat. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah menyampaikan kerinduannya kepada orang-orang yang belum pernah bertemu dengan beliau tetapi beriman kepadanya. Ketika para sahabat bertanya apakah mereka bukan saudara Rasulullah SAW, beliau menjelaskan bahwa mereka adalah sahabatnya. Adapun saudara-saudaranya adalah orang-orang yang beriman kepada beliau meskipun belum pernah bertemu dan melihat beliau. Karena itu, mempelajari Sirah Nabawiyah menjadi salah satu bekal penting bagi umat Islam untuk mengenal sosok Rasulullah SAW secara lebih dekat. Mengenal nasab, keluarga, perjuangan dakwah, akhlak, kebiasaan, keistimewaan, hingga ajaran beliau diharapkan dapat menumbuhkan mahabbah atau kecintaan yang semakin kuat. Semoga kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada ucapan dan selawat, tetapi benar-benar tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengikuti ajaran dan sunah beliau, semoga kita termasuk umat yang kelak dikumpulkan bersama Rasulullah SAW.

Link Maulid Nabi di SMKN 1 Abung Selatan : 

https://drive.google.com/file/d/1oXvaDOgq7FPfzZlZgcrnOkbVSMnD_U9Y/view?usp=sharing


 

  

  

  

Berita Terbaru

KEGIATAN PAGI DI SMK NEGERI 1 ABUNG SELATAN

ACARA MAULID NABI MUHAMMAD SAW 1448 H

SELAMAT HUT KE-81 RI 17 AGUSTUS 2026

Hari Anak Nasional 2026

HARI TAHUN BARU ISLAM ( 1 MUHARRAM 1448 H )

Kontak Kami
Alamat :

Jl. Pemuda No. 1 Kalibalangan, Abung Selatan, Lampung Utara , Lampung - Indonesia

Telepon :

(0724)3260151

Email :

Absel_smkn@yahoo.com

Website :

https://smkn1abungselatan.sch.id

Media Sosial :
Statistik Pengunjung